Jakarta — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra serta mengganggu aktivitas penerbangan.
Berdasarkan laporan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi menjadi semakin intens dalam beberapa hari terakhir.
Erupsi menerus tercatat kembali pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Fenomena yang terjadi juga menunjukkan semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Fenomena tersebut dapat menghasilkan aliran lava dan merupakan salah satu bentuk aktivitas erupsi yang dapat terjadi pada Gunung Anak Krakatau.
Erupsi Kembali Terjadi pada Minggu Malam
Setelah aktivitas erupsi menerus sempat berhenti, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026 pukul 20.23 WIB. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan berlangsung sekitar 44 detik.
Aktivitas vulkanik tersebut membuat pemerintah dan sejumlah instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan Gunung Anak Krakatau, terutama karena abu vulkanik dapat terbawa angin ke wilayah yang jauh dari lokasi gunung.
Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Wilayah
BMKG melaporkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik berdasarkan pemantauan satelit pada Minggu, 6 September 2026.
Abu pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak menuju arah timur laut hingga selatan dan berpotensi memengaruhi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Sejumlah Bandara Terdampak
Sebaran abu vulkanik juga berdampak terhadap operasional penerbangan. Sejumlah bandara mengalami penutupan sementara karena kondisi abu vulkanik dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
Laporan terbaru menyebutkan beberapa bandara di sekitar Jakarta, Lampung, Jawa Barat dan wilayah lainnya mengalami gangguan operasional. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti pergerakan abu vulkanik dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Gangguan penerbangan bahkan berdampak pada ribuan penerbangan dan ratusan ribu penumpang. Maskapai melakukan pembatalan maupun penyesuaian penerbangan sebagai langkah keselamatan.
Masyarakat Diminta Menjauh dari Kawah
PVMBG mengimbau masyarakat maupun wisatawan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas di sekitar kawah aktif tetap berbahaya karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik.
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu juga diminta tetap tenang, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB dan pemerintah daerah.
Tidak Ada Indikasi Tsunami Saat Ini
Meningkatnya aktivitas Anak Krakatau kembali mengingatkan masyarakat terhadap tsunami Selat Sunda pada 2018. Namun, berdasarkan pemantauan BMKG terbaru, sensor tsunami di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut dan probabilitas tsunami saat pemantauan berada pada tingkat rendah.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan secara intensif karena aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan kondisinya dapat berubah sewaktu-waktu.
Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif yang berada di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung tersebut terbentuk setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883 dan terus mengalami aktivitas vulkanik hingga saat ini.

Bagian analisisnya menarik dan membuat saya ingin mencari tahu lebih banyak.
Pembahasannya terasa seimbang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
The structure makes this article easy to scan without losing the important context.
Sudut pandangnya menarik, terutama bagian yang membahas dampaknya sehari-hari.
Informasinya relevan dengan kondisi sekarang. Semoga ada pembaruan lanjutan.